Archive for the ‘Khutbah Jumat’ Category

Khutbah Jumat 22 Maret 19 : Beriman – Istiqomah & Berakhlak Mulia

March 22, 2019

Masjid Ulul Albab Kalibata.
Khotib Dr. Ali

Materi Khotbah:
– Pentingnya beriman, dan istiqomah dalam keimanan
– Pentingnya berakhlak mulia karena dengan akhlak mulia yang dimiliki seseorang akan menyamai derajat orang-orang yang ahli puasa dan shalat malam.


Terkait dengan khutbah tadi, saya mencoba mencari lebih jauh tentang apa itu akhlak.
Berikut penjelasan tentang Ahlak dari referensi id.wikipedia:

Akhlak secara terminologi berarti tingkah laku seseorang yang didorong oleh suatu keinginan secara sadar untuk melakukan suatu perbuatan yang baik.[1]

Akhlak merupakan bentuk jamak dari kata khuluk, berasal dari bahasa Arab yang berarti perangai, tingkah laku, atau tabiat.[2] cara membedakan akhlak, moral dan etika yaitu Dalam etika, untuk menentukan nilai perbuatan manusia baik atau buruk menggunakan tolok ukur akal pikiran atau rasio, sedangkan dalam moral dan susila menggunakan tolok ukur norma-norma yang tumbuh dan berkembang dan berlangsung dalam masyarakat (adat istiadat), dan dalam akhlaq menggunakan ukuran Al Qur’an dan Al Hadis untuk menentukan baik-buruknya.

Tiga pakar di bidang akhlak yaitu Ibnu Miskawaih, Al Gazali, dan Ahmad Amin menyatakan bahwa akhlak adalah perangai yang melekat pada diri seseorang yang dapat memunculkan perbuatan baik tanpa mempertimbangkan pikiran terlebih dahulu.[3]

Pembagian Akhlak
Akhlak Baik (Al-Hamidah)
1. Jujur (Ash-Shidqu)

adalah suatu tingkah laku yang didorong oleh keinginan (niat) yang baik dengan tujuan tidak mendatangkan kerugian bagi dirinya maupun oranglain.
2. Berprilaku baik (Husnul Khuluqi)

adalah suatu reaksi psikis seseorang terhadap lingkungannya dengan cara yang terpuji.
3. Malu (Al-Haya’)

adalah akhlak (perangai) seseorang untuk meninggalkan perbuatan-perbuatan buruk dan tercela,sehingga mampu menghalangi seseorang untuk melakukan dosa dan maksiat serta dapat mencegah seseorang untuk melalaikan hak orang lain.
4. Rendah hati (At-Tawadlu’)Washiyatul mushtofa

adalah sifat pribadi yang bijak oleh seseoarang yang dapat memposisikan dirinya sederajat dengan orang lain dan tidak merasa lebih tinggi dari orang lain.
5. Murah hati (Al-Hilmu)

adalah suka (mudah) memberi kepada sesama tanpa merasa pamrih atau sekadar pamer.
6. Sabar (Ash-Shobr)

adalah menahan atau mengekang segala sesuatu yang menimpa diri kita(hawa nafsu).

Dari ‘Amr bin Syu’aib, dari ayahnya, dari kakeknya, semoga Allah merelakannya, berkata, “Rasulullah SAW. bersabda”, “Ketika Allah mengumpulkan segenap makhluk pada hari kiamat kelak, menyerulah Penyeru”, “Di manakah itu, orang-orang yang utama (ahlul fadhl) ?”. Maka berdirilah sekelompok manusia, jumlah mereka sedikit, dengan cepatnya mereka bergegas menuju syurga, para malaikat berpapasan dengan mereka, lalu menyapa mereka. “Kami lihat kalian begitu cepat menuju syurga, sipakah kalian ?”. Orang-orang ini menjawab, “Kamilah itu orang-orang yang utama (ahlul fadhl)”. “Apa keutamaan kalian ?”, tanya para malaikat. Orang-orang ini memperjelas, “Kami, jika didzalimi, kami bersabar. Jika diperlakukan buruk, kami memaafkan. Jika orang lain khilaf pada kami, kamipun tetap bermurah hati”. Akhirnya dikatakan pada mereka, “Masuklah ke dalam syurga, karena demikian itulah sebaik-baik balasan bagi orang-orang yang beramal”. Setelah itu menyerulah lagi penyeru, :”Di manakan itu, orang-orang yang bersabar (ahlush shabr) ?”. Maka berdirilah sekelompok manusia, jumlah mereka sedikit, dengan cepatnya mereka bergegas menuju syurga, para malaikat berpapasan dengan mereka, lalu menyapa mereka. “Kami lihat kalian begitu cepat menuju syurga, sipakah kalian ?”. Orang-orang ini menjawab, “Kamilah itu orang-orang yang sabar (ahlush shabr). “Kesabaran apa yang kalian maksud ?”, tanya para malaikat. Orang-orang ini memperjelas, “Kami sabar bertaat pada Allah, kamipun sabar tak bermaksiat padaNya. Akhirnya Dikatakan pada mereka, “Masuklah ke dalam syurga, karena demikian itulah sebaik-baik balasan bagi orang-orang yang beramal”. (Hilyatul Auliyaa’/ Juz III/ Hal. 140)

Akhlak Buruk (Adz-Dzamimah)

1. Mencuri/mengambil bukan haknya 2. Iri hati 3. Membicarakan kejelekan orang lain (bergosip) 4. Membunuh 5. Segala bentuk tindakan yang tercela dan merugikan orang lain ( mahluk lain)
Ruang Lingkup Akhlak
Akhlak pribadi

Yang paling dekat dengan seseorang itu adalah dirinya sendiri, maka hendaknya seseorang itu menginsyafi dan menyadari dirinya sendiri, karena hanya dengan insyaf dan sadar kepada diri sendirilah, pangkal kesempurnaan akhlak yang utama, budi yang tinggi. Manusia terdiri dari jasmani dan rohani, disamping itu manusia telah mempunyai fitrah sendiri, dengan semuanya itu manusia mempunyai kelebihan dan dimanapun saja manusia mempunyai perbuatan.[1]
Akhlak berkeluarga

Akhlak ini meliputi kewajiban orang tua, anak, dan karib kerabat. Kewajiban orang tua terhadap anak, dalam islam mengarahkan para orang tua dan pendidik untuk memperhatikan anak-anak secara sempurna, dengan ajaran –ajaran yang bijak, setiap agama telah memerintahkan kepada setiap oarang yang mempunyai tanggung jawab untuk mengarahkan dan mendidik, terutama bapak-bapak dan ibu-ibu untuk memiliki akhlak yang luhur, sikap lemah lembut dan perlakuan kasih sayang. Sehingga anak akan tumbuh secara sabar, terdidik untuk berani berdiri sendiri, kemudian merasa bahwa mereka mempunyai harga diri, kehormatan dan kemuliaan.[1]

Seorang anak haruslah mencintai kedua orang tuanya karena mereka lebih berhak dari segala manusia lainya untuk engkau cintai, taati dan hormati.[1] Karena keduanya memelihara,mengasuh, dan mendidik, menyekolahkan engkau, mencintai dengan ikhlas agar engkau menjadi seseorang yang baik, berguna dalam masyarakat, berbahagia dunia dan akhirat.[1] Dan coba ketahuilah bahwa saudaramu laki-laki dan permpuan adalah putera ayah dan ibumu yang juga cinta kepada engkau, menolong bapak dan mamakmu dalam mendidikmu, mereka gembira bilamana engkau gembira dan membelamu bilamana perlu.[1] Pamanmu, bibimu dan anak-anaknya mereka sayang kepadamu dan ingin agar engkau selamat dan berbahagia, karena mereka mencintai ayah dan ibumu dan menolong keduanya disetiap keperluan.[1]
Akhlak bermasyarakat

Tetanggamu ikut bersyukur jika orang tuamu bergembira dan ikut susah jika orang tuamu susah, mereka menolong, dan bersam-sama mencari kemanfaatan dan menolak kemudhorotan, orang tuamu cinta dan hormat pada mereka maka wajib atasmu mengikuti ayah dan ibumu, yaitu cinta dan hormat pada tetangga.[1]

Pendidikan kesusilaan/akhlak tidak dapat terlepas dari pendidikan sosial kemasyarakatan, kesusilaan/moral timbul di dalam masyarakat. Kesusilaan/moral selalu tumbuh dan berkembang sesuai dengan kemajuan dan perkembangan masyarakat. Sejak dahulu manusia tidak dapat hidup sendiri–sendiri dan terpisah satu sama lain, tetapi berkelompok-kelompok, bantu-membantu, saling membutuhkan dan saling mepengaruhi, ini merupakan apa yang disebut masyarakat. Kehidupan dan perkembangan masyarakat dapat lancar dan tertib jika tiap-tiap individu sebagai anggota masyarakat bertindak menuruti aturan-aturan yang sesuai dengan norma- norma kesusilaan yang berlaku.[1]
Akhlak bernegara

Mereka yang sebangsa denganmu adalah warga masyarakat yang berbahasa yang sama denganmu, tidak segan berkorban untuk kemuliaan tanah airmu, engkau hidup bersama mereka dengan nasib dan penanggungan yang sama. Dan ketahuilah bahwa engkau adalah salah seorang dari mereka dan engkau timbul tenggelam bersama mereka.[1]
Akhlak beragama

Akhlak ini merupakan akhlak atau kewajiban manusia terhadap tuhannya, karena itulah ruang lingkup akhlak sangat luas mencakup seluruh aspek kehidupan, baik secara vertikal dengan Tuhan, maupun secara horizontal dengan sesama makhluk Tuhan.[1]
Referensi

^ a b c d e f g h i j k l m Ahmad A.K. Muda. 2006. Kamus Lengkap Bahasa Indonesia. Jakarta: Reality Publisher. Hal 45-50
^ a b c d e f g h i j k l m n o p q r s t u v w x y z aa ab ac ad ae Mubarak, Zakky, dkk. 2008. Mata Kuliah Pengembangan Kepribadian Terintegrasi, Buku Ajar II, Manusia, Akhlak, Budi Pekerti dan Masyarakat. Depok: Lembaga Penerbit FE UI.Hlm. 20-39
^ Rahmat Djanika, 1992:27
^ Bertens, K. 2000. Etika. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama. 76
^ Ensiklopedia Brittanica
^ Robert C. Solomon. 1985. Introducing Philosophy: A Text with Reading, (third edition), New York: Hacourt Brace Jovanovich, Hlm. 65
^ C.A, Van Peursen. 1980. Susunan Ilmu Pengetahuan J. Drost, Jakarta:Gramedia, Hlm. 109.
^ Charles F. Andrain. Kehidupan Politik dan perubahan Sosial, (Terjemahan Luqman Hakim), Yogyakarta: Tiara Wacana Yogya.Hlm 69
^ Anton Bakker. 1984. Metode-Metode Filsafat, Jakarta: Ghalia Indonesia.Hlm. 48
^ Irving Copi. 1976. Introduction to Logic, New York: The Miridian Library.Hlm. 27

Advertisements

Khutbah Jumat Tgl 30 Nov 18 : Pentingnya persatuan

December 11, 2018

Point Khutbah:

Pentingnya persatuan bagi umat Islam.

Khutbah Jumat 31 Agustus 18 : Ciri Ahli Surga

August 31, 2018

Masjid Ulul Albab, Kalibata.
Khotib: Ust.Arwani Amin MA

Point-point khutbah:
ciri-ciri ahli surga adalah:
1. Manusia yang tidak Syirik (mengamalkan ..laa ilah ha ilalloh)
2. Manusia yang tidak memiliki rasa Dengki kepada orang lain.
3. Manusia yang menjaga shalat malam
4. Manusia yang tidak suka menggunjing (Ghibah)
5. Manusia yang suka memberi (berdonasi) membantu orang lain dengan harta atau makanan.
6. Manusia yang suka menebar salam (menebar keselamatan)
7. Manusia yang suka menyambung silaturahim

Khutbah Jumat 24 Agustus 2018: Makna Itaqulloh Haqqotuqotih

August 24, 2018

Masjid Ulul Albab
Point-point Khutbah:
– Makna Makna Itaqulloh Haqqotuqotih :
1. Selalu Berdzikir/menginat Alloh SWT
2. Selalu mentaati semua perintah Allah SWT

Khutbah Jumat Tgl 17 Agustus 2018: Mensyukuri Nikmat Kemerdekaan

August 24, 2018

Masjid AL Muhajirin Komp.hankam Asri Pondok Rajeg.

Point-point khutbah:
– Mengenang jasa para pahlawan, yang kebanyakan adalah kaum santri..berani berkorban jiwa raga demi kemerdekaan bangsa Indonesai dari cengkraman penjajah Belanda.

– Meningkatkan Rasa syukur atas nikmat kemerdekaan Republik Indonesia yang ke 73, dengan cara mengisinya dengan peningkatan amal sholih yang dapat berkontribusi positif bagi kesejahteraan Masyarakat Indonesia.

Khutbah Jumat 10 Agustus 2018: Persiapan Dzulhijah

August 10, 2018

Bulan dzulhijah memiliki banyak keutamaan, terutama 10 hari pertama.

– Perbanyak ibadah/beramal sholih, apa saja..shalat, puasa, shadaqah, membantu orang dsb..

Khutbah Jumat tgl 3 Agustus 2018 : Terlawat

August 10, 2018

Kali ini terlewat dari mengikuti khutbah karena sesampainya di masjid, khutbah sudah mau berakhir dan segera persiapan qomat.

Khutbah Jumat tgl 13 Juli 2018: Surat AL Balad

July 20, 2018

Isi Khutbah: Lupa

Imam membaca Surat AlBalad pada rakaat pertama.

Khutbah Tgl 6 Juli 2018 : Allah Maha Pengasih

July 6, 2018

masjid ulul Albab kalibata

Khotib: ustadz wachid Ramdhan MA


Isi Khutbah:

Dikisahkan pada jaman Rasullulloh, setelah selesai perang. Terdapat rombongan tawanan perang, diantaranya adalah seorang wanita (ibu) yang menangis dan berlari kesana kemari.. karena mencari anaknya yang hilang.

Peristiwa itu dilihat oleh Rasulullah SAW: Kemudian Rasululloh berkata kepada para sahabat..Lihatlah ibu itu, betapa ia mengasihi anaknya sehingga ia berbuat seperti itu. Dan taukah engkau sahabat, bahwa kasih sayang Allah SWT kepada makhluknya, melebihi kasih-sayang ibu tersebut kepada anaknya.
—-
Note: Ulasan khotib tersebut dikutip dari hadits nabi sbb:

حَدَّثَنِي الْحَسَنُ بْنُ عَلِيٍّ الْحُلْوَانِيُّ وَمُحَمَّدُ بْنُ سَهْلٍ التَّمِيمِيُّ وَاللَّفْظُ لِحَسَنٍ حَدَّثَنَا ابْنُ أَبِي مَرْيَمَ حَدَّثَنَا أَبُو غَسَّانَ حَدَّثَنِي زَيْدُ بْنُ أَسْلَمَ عَنْ أَبِيهِ عَنْ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ أَنَّهُ قَالَ قَدِمَ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِسَبْيٍ فَإِذَا امْرَأَةٌ مِنْ السَّبْيِ تَبْتَغِي إِذَا وَجَدَتْ صَبِيًّا فِي السَّبْيِ أَخَذَتْهُ فَأَلْصَقَتْهُ بِبَطْنِهَا وَأَرْضَعَتْهُ فَقَالَ لَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَتَرَوْنَ هَذِهِ الْمَرْأَةَ طَارِحَةً وَلَدَهَا فِي النَّارِ قُلْنَا لَا وَاللَّهِ وَهِيَ تَقْدِرُ عَلَى أَنْ لَا تَطْرَحَهُ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَلَّهُ أَرْحَمُ بِعِبَادِهِ مِنْ هَذِهِ بِوَلَدِهَا

Telah menceritakan kepadaku [Al Hasan bin ‘Ali Al Hulwani] dan [Muhammad bin Sahl At Tamimi] -dan lafadh ini milik Hasan-; telah menceritakan kepada kami [Ibnu Abu Maryam] telah menceritakan kepada kami [Abu Ghassan] telah menceritakan kepadaku [Zaid bin Aslam] dari [bapaknya] dari [‘Umar bin Al Khaththab] bahwasanya dia berkata; “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah memperoleh beberapa orang tawanan perang. Tiba-tiba ada seorang perempuan dari mereka mencari bayinya dalam kelompok tawanan itu, maka ia mengambil dan membuainya serta menyusuinya. Melihat hal itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya kepada kami: ‘Menurut kalian, apakah perempuan itu tega melemparkan bayinya ke dalam api? ‘ Kami menjawab; ‘Demi Allah, sesungguhnya ia tidak akan tega melemparkan anaknya ke dalam api selama ia masih sanggup menghindarkannya dari api tersebut.’ Lalu Rasulullah bersabda: ‘Sungguh, kasih sayang Allah terhadap hamba-Nya melebihi kasih sayang perempuan itu terhadap anaknya.'”

Hadits Muslim Nomor 4947
referensi link https://tafsirq.com/hadits/muslim/4947

Pada saat akan sholat, imam mengingatkan agar sholat seolah sholat tersebut merupakan sholat yang terakhir pada hidup kita.


imam membaca surat Al A’la rakaat 1 dan surat AL Gosiyah pada rakaat ke-2

khutbah tgl 29 Juni 2018

July 6, 2018

Masjid Desa Kasilib, Wanadadi, banjarnegara.


Isi khutbah Lupa